Konsep dan Praktik Industri Hijau untuk Pembangunan Berkelanjutan


Industri hijau adalah konsep dan praktik yang bertujuan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dengan mengintegrasikan tujuan lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam sektor industri. Industri hijau berarti bahwa industri berupaya untuk menggunakan sumber daya lebih efisien dan efektif, mengurangi dampak lingkungan mereka, dan meningkatkan manfaat sosial mereka. Industri hijau juga berarti bahwa pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya mendukung dan memfasilitasi transisi industri menuju ekonomi beremisi karbon rendah, berkelanjutan, dan inklusif.

 

Rasionalitas dan Manfaat Industri Hijau

Industri hijau adalah respons terhadap berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi sektor industri dalam konteks perubahan global. Beberapa tantangan dan peluang tersebut meliputi:

 

Perubahan iklim: Sektor industri adalah salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan dampaknya, seperti kenaikan permukaan air laut, peristiwa cuaca ekstrem, kerugian keanekaragaman hayati, ketidakamanan pangan, dan risiko kesehatan manusia. Industri hijau dapat membantu mengurangi perubahan iklim dengan mengurangi emisi, meningkatkan efisiensi energi, dan beralih ke sumber energi terbarukan.

Keterbatasan sumber daya: Sektor industri adalah salah satu pengguna utama sumber daya alam, seperti air, lahan, mineral, atau biomassa, yang bersifat terbatas dan terkuras. Industri hijau dapat membantu melestarikan sumber daya dengan meminimalkan limbah, memaksimalkan penggunaan kembali, dan mendorong sirkularitas.

Pertumbuhan ekonomi: Sektor industri adalah salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan daya saing. Industri hijau dapat membantu meningkatkan pertumbuhan dengan menciptakan pasar, produk, layanan, atau pekerjaan baru yang didasarkan pada teknologi atau solusi hijau.

Keadilan sosial: Sektor industri adalah salah satu kontributor utama dalam pengembangan sosial, lapangan kerja, pendapatan, atau kesejahteraan. Industri hijau dapat membantu meningkatkan keadilan dengan memastikan bahwa manfaat dan biaya kegiatan industri didistribusikan secara adil di antara berbagai kelompok dan wilayah.

Kebijakan dan Instrumen Industri Hijau

Industri hijau memerlukan kombinasi kebijakan dan instrumen yang dapat memungkinkan dan memberikan insentif kepada industri untuk mengadopsi praktik dan prinsip hijau. Beberapa kebijakan dan instrumen ini adalah:

 

Peraturan dan standar: Ini adalah peraturan atau norma yang menetapkan persyaratan atau standar minimum untuk kinerja atau kualitas lingkungan. Peraturan dan standar dapat membantu mencegah atau mengurangi polusi, emisi, atau limbah dari kegiatan industri.

Pajak dan subsidi: Ini adalah tindakan fiskal yang memengaruhi harga atau biaya barang atau layanan. Pajak dan subsidi dapat membantu internalisasi eksternalitas atau biaya sosial dari dampak lingkungan atau manfaat dari kegiatan industri.

Informasi dan pendidikan: Ini adalah tindakan yang memberikan atau menyebarkan pengetahuan atau kesadaran tentang masalah lingkungan atau solusi. Informasi dan pendidikan dapat membantu memberi tahu atau memengaruhi keputusan atau perilaku konsumen atau produsen mengenai opsi industri hijau.

Inovasi dan teknologi: Ini adalah tindakan yang mendukung atau memfasilitasi pengembangan atau penyebaran teknologi atau proses baru atau yang ditingkatkan yang meningkatkan kinerja atau efisiensi lingkungan. Inovasi dan teknologi dapat membantu menciptakan atau meningkatkan produk atau layanan industri hijau.

Contoh dan Kasus Industri Hijau

Industri hijau telah diimplementasikan atau dipraktikkan di berbagai negara dan wilayah di seluruh dunia. Menurut UNEP, beberapa contoh dan kasus industri hijau adalah:

 

Swedia: Swedia memperkenalkan pajak karbon pada tahun 1991 sebagai bagian dari reformasi pajak lingkungan yang lebih luas. Pajak karbon mencakup sekitar 40% emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi, pemanasan, pertanian, dan limbahnya. Tarif pajak karbon secara bertahap meningkat seiring berjalannya waktu dan mencapai 120 euro per ton CO2e pada tahun 2020. Swedia juga telah mengurangi pajak lain pada tenaga kerja dan modal untuk mengimbangi dampak pajak karbon terhadap ekonominya. Swedia telah mencapai pengurangan emisi yang signifikan sambil mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Kanada: Kanada menerapkan sistem penetapan harga karbon federal pada tahun 2019 yang terdiri dari dua komponen: biaya bahan bakar yang berlaku untuk bahan bakar fosil yang digunakan untuk transportasi dan pemanasan; dan sistem penetapan harga berdasarkan hasil yang berlaku untuk fasilitas industri yang mengeluarkan di atas ambang batas tertentu. Sistem federal menetapkan tingkat harga minimum yang meningkat setiap tahun dari 20 dolar Kanada per ton CO2e pada tahun 2019 menjadi 50 dolar Kanada per ton CO2e pada tahun 2022. Sistem federal berlaku hanya untuk provinsi atau wilayah yang tidak memiliki sistem penetapan harga karbon setara atau lebih ketat sendiri. Sistem federal juga mengembalikan sebagian besar pendapatan kepada rumah tangga dan bisnis melalui pengembalian atau hibah.

Afrika Selatan: Afrika Selatan memperkenalkan pajak karbon pada tahun 2019 yang mencakup sekitar 80% emisi gas rumah kaca dari sektor seperti pembangkit listrik, pertambangan, manufaktur, transportasi, dan limbahnya. Tarif pajak karbon diatur pada 120 rand Afrika Selatan per ton CO2e, dengan berbagai keringanan dan pengecualian yang mengurangi tarif pajak efektif menjadi 6-48 rand Afrika Selatan per ton CO2e. Pendapatan pajak karbon diharapkan akan meningkat secara bertahap seiring waktu dan sejalan dengan target pengurangan emisi negara. Pendapatan pajak karbon digunakan untuk mendanai program-program lingkungan dan sosial, seperti proyek energi terbarukan, transportasi umum, atau hibah sosial.

Ini adalah beberapa contoh dan kasus industri hijau di seluruh dunia. Namun, masih banyak negara dan wilayah lain yang telah menerapkan atau sedang mempertimbangkan kebijakan atau praktik industri hijau, seperti Cile, Kolombia, Prancis, Jepang, Meksiko, Singapura, Swiss, atau Uni Eropa. Industri hijau juga didukung oleh berbagai organisasi internasional, seperti UNIDO, OECD, atau World Economic Forum. Industri hijau adalah konsep dan praktik yang banyak digunakan dan diakui secara luas untuk pembangunan berkelanjutan. 



Komentar