
Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan adalah kompas global bersama, yang menggambarkan perjalanan menuju penghapusan kemiskinan, perlindungan planet, serta pemeliharaan kesejahteraan dan harmoni universal hingga tahun 2030. Agenda visi ini terurai melalui 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), masing-masing dihubungkan dengan 169 target, menciptakan gambaran komprehensif tentang evolusi ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Terbenam di antara pemimpin perjalanan global ini adalah
Indonesia, sebuah negara yang penuh kehidupan dan keragaman, dengan penduduknya
yang melebihi 270 juta. Di dalam mozaik yang penuh warna ini terdapat prospek
yang menjanjikan dan rintangan yang tangguh dalam perjalanan menuju kemajuan
berkelanjutan. Untuk menavigasi perjalanan multiseluler ini, Indonesia
memerlukan peta jalan yang definitif, sebuah panduan kebijakan, inisiatif, dan upaya
untuk menerangi jalannya menuju SDGs.
Muncul dari kebutuhan ini adalah Peta Jalan SDGs Indonesia,
dokumen seminal yang menenun narasi visi, misi, tujuan, strategi, target,
indikator, dan langkah-langkah konkret untuk masing-masing dari 17 SDGs yang disesuaikan
dengan konteks Indonesia. Peta jalan ini, merupakan upaya kolaboratif yang
dipimpin oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), berasal
dari sinergi badan pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, akademisi, dan
sekutu internasional. Pada Oktober 2019, Wakil Presiden Indonesia menghadirkan
peta jalan ini dalam Konferensi Tahunan SDGs kedua, memberikannya pengesahan
resmi.
Peta jalan ini melebihi sekadar dokumentasi; ia berfungsi
sebagai mercusuar panduan bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam
pencapaian SDGs di dalam batas-batas Indonesia. Ini menawarkan kompas dan
tempat berdiskusi untuk mengukur kemajuan dan mengatasi tantangan secara
bersamaan. Arsitekturnya berdasarkan empat pilar penting:
Tujuan dan Kebijakan SDGs 2030: Elemen dasar ini
menggambarkan situasi saat ini, proyeksi masa depan, kebijakan yang diperlukan,
dan tantangan utama untuk setiap indikator atau tujuan. Ia memvisualisasikan
berbagai jenis intervensi untuk mempercepat pencapaian SDGs pada tahun 2030.
Arah kebijakan menjabarkan langkah-langkah strategis dan rekomendasi. Tantangan
dan peluang utama menjadi pusat perhatian, mendorong solusi inovatif.
Keterkaitan 17 Tujuan: Aspek ini menenun kain yang
menghubungkan di antara 17 tujuan, mengungkapkan harmoni dan ketidaksepakatan
yang muncul saat beberapa tujuan berdampingan dengan harmoni atau kekacauan.
Ini mengungkapkan dampak domino, mengungkapkan bagaimana pengejaran satu tujuan
dapat mendorong, atau mengkompromikan, upaya yang lain. Analisis rumit ini
menekankan kekhawatiran lintas-sektor, menyoroti area yang membutuhkan
perhatian holistik.
Strategi Pembiayaan SDGs: Berakar dalam realitas pragmatis,
bagian ini menavigasi dimensi keuangan dari pencapaian SDGs. Ini menguraikan
perkiraan kebutuhan dan kekosongan keuangan, menjelajahi berbagai sumber dan
instrumen. Ini termasuk spektrum dari pinjaman domestik dan internasional,
investasi swasta, filantropi, obligasi hijau, dan sebagainya. Ini muncul
sebagai peta jalan dalam peta jalan, menawarkan cara konkret untuk mendanai
aspirasi-aspirasi SDGs yang bersifat abstrak.
Perjalanan ke Depan: Bagian akhir ini memadatkan inti peta
jalan, merangkum inti peta jalan, menguraikan langkah-langkah logis berikutnya
dan tindakan-tindakan lanjutan. Tindakan-tindakan ini meliputi spektrum dari
implementasi, pemantauan, evaluasi, dan recalibrasi. Di sini terdapat esensi
momentum ke depan.
Peta Jalan SDGs Indonesia, seperti pembangunan berkelanjutan
itu sendiri, dinamis. Ia berkembang, beradaptasi dengan perubahan realitas.
Ketika Indonesia berkembang, begitu juga peta jalan ini, mencerminkan dinamika
dan narasi kemajuan berkelanjutan yang berkembang. Tetapi di dalam dinamika ini
terdapat undangan terbuka: sebuah panggilan untuk berpartisipasi, sebuah ajakan
untuk berkontribusi. Ia mengulurkan tangan kepada para pemangku kepentingan
dari berbagai jenis, mengundang mereka untuk memperkaya kainnya dengan wawasan,
saran, dan kolaborasi. Ia tidak hanya menegaskan kebutuhan, tetapi juga potensi
tak terbatas, ketika Indonesia maju untuk menerjemahkan aspirasi nasionalnya ke
dalam bahasa perbaikan global.
Komentar
Posting Komentar