Limbah elektronik, atau e-waste, adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan perangkat listrik atau elektronik yang dibuang karena telah mencapai akhir masa pakai atau menjadi usang. E-waste dapat mencakup segala hal mulai dari komputer, TV, dan ponsel hingga kulkas, mesin cuci, dan microwave. E-waste merupakan salah satu aliran limbah yang paling cepat berkembang di dunia, seiring dengan meningkatnya permintaan produk elektronik baru dan unggulan serta berkurangnya masa pakai produk yang sudah ada. Menurut Global E-waste Monitor 2020, sebanyak 53,6 juta ton metrik e-waste dihasilkan secara global pada tahun 2019, meningkat sebesar 9,2 juta ton metrik sejak tahun 2014.
Dampak dan Risiko Limbah Elektronik
Limbah elektronik memiliki dampak dan risiko signifikan baik
bagi kesehatan manusia maupun lingkungan. Beberapa dampak dan risiko tersebut
antara lain:
Limbah elektronik mengandung zat berbahaya seperti timah,
merkuri, kadmium, arsenik, dan retardan api berbromin yang dapat meresap ke
dalam tanah, air, dan udara ketika limbah elektronik dibuang atau dibakar.
Zat-zat ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti kanker,
kerusakan saraf, gangguan reproduksi, dan cacat lahir.
Limbah elektronik juga mengandung material berharga seperti
tembaga, emas, perak, dan platinum yang dapat dipulihkan dan digunakan kembali.
Namun, sebagian besar limbah elektronik tidak didaur ulang dengan benar dan
akhirnya berakhir di tempat pembuangan sampah atau situs daur ulang informal di
negara-negara berkembang, di mana pekerja menggunakan metode yang tidak aman
dan primitif untuk mengekstrak logam-logam tersebut. Metode ini membahayakan
pekerja dan masyarakat di sekitarnya dengan paparan asap beracun, debu, dan
bahan kimia.
Limbah elektronik berkontribusi pada perubahan iklim dengan
melepaskan gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana ketika limbah
elektronik dibakar atau terurai. Limbah elektronik juga mengonsumsi banyak
energi dan sumber daya selama tahap produksi, transportasi, dan pembuangan.
Sebagai contoh, produksi satu komputer memerlukan 240 kilogram bahan bakar
fosil, 22 kilogram bahan kimia, dan 1,5 ton air.
Cara Mengurangi dan Mengelola Limbah Elektronik
Ada beberapa cara untuk mengurangi dan mengelola limbah
elektronik secara lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab. Beberapa cara
tersebut antara lain:
Mengurangi: Cara terbaik untuk mengurangi limbah elektronik
adalah dengan membeli produk elektronik lebih sedikit atau memilih produk yang
tahan lebih lama dan lebih energi efisien. Konsumen juga dapat memperpanjang
masa pakai produk elektronik mereka dengan memperbaikinya ketika rusak atau
mengupgradenya ketika sudah usang.
Menggunakan Kembali: Cara lain untuk mengurangi limbah
elektronik adalah dengan menggunakan kembali produk elektronik yang masih
berfungsi atau menyumbangkannya kepada orang lain yang membutuhkannya. Konsumen
juga dapat menjual atau menukarkan produk elektronik yang tidak diinginkan
melalui platform online atau pasar lokal.
Daur Ulang: Langkah terakhir untuk mengurangi limbah
elektronik adalah dengan mendaur ulang produk elektronik yang tidak dapat
digunakan atau diperbaiki. Konsumen harus membuang limbah elektronik mereka di
titik pengumpulan atau fasilitas daur ulang yang diotorisasi dan mengikuti
standar lingkungan dan keamanan yang benar. Konsumen juga sebaiknya mencari
produk yang memiliki label ekologis atau sertifikasi yang menunjukkan daur
ulang atau kinerja lingkungan mereka.
Dengan mengurangi dan mengelola limbah elektronik, kita
dapat membantu melindungi kesehatan dan lingkungan dari dampak berbahaya limbah
elektronik. Kita juga dapat melestarikan sumber daya alam dan menghemat uang
dengan mendaur ulang dan menggunakan kembali material berharga dari limbah
elektronik. Limbah elektronik bukan hanya masalah limbah, tetapi juga peluang
sumber daya untuk ekonomi yang lebih berkelanjutan dan berputar.

Komentar
Posting Komentar