Masalah Global Sampah Plastik dan Solusinya

 


 


Plastik adalah bahan yang memiliki banyak manfaat: murah, serbaguna, ringan, dan tahan lama. Digunakan untuk berbagai aplikasi, mulai dari kemasan hingga alat medis, dari konstruksi hingga elektronik. Namun, plastik juga memiliki sisi gelap: merupakan salah satu polutan yang paling persisten dan merata di dunia.

 

Skala polusi plastik

 

Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), sekitar 7 miliar dari 9,2 miliar ton plastik yang diproduksi dari tahun 1950 hingga 2017 menjadi sampah plastik, berakhir di tempat pembuangan atau dibuang. Hanya 9% dari sampah ini didaur ulang, 12% dibakar, dan sisanya menumpuk di lingkungan.

 

Sampah plastik dapat memiliki dampak negatif pada kehidupan liar, ekosistem, dan kesehatan manusia. Hewan dapat mengonsumsi atau terjerat dalam serpihan plastik, menyebabkan luka, infeksi, atau kematian. Plastik juga dapat merembeskan zat kimia berbahaya ke dalam tanah dan air, memengaruhi kualitas dan keamanan sumber daya alam. Selain itu, plastik dapat berperan sebagai pembawa spesies invasif atau patogen, mengubah biodiversitas dan keseimbangan ekosistem. Akhirnya, plastik dapat memengaruhi kesehatan manusia dengan mencemari rantai makanan atau melepaskan gas beracun saat dibakar.

 

Salah satu manifestasi paling terlihat dan mengkhawatirkan dari polusi plastik adalah akumulasi sampah plastik di lautan. Setiap tahunnya, sekitar 8 juta ton sampah plastik bocor ke lautan dari negara-negara pesisir. Ini setara dengan meletakkan lima kantong sampah penuh di setiap kaki garis pantai di seluruh dunia.

 

Sampah plastik di lautan dapat bergerak jauh dengan arus laut, membentuk gumpalan besar serpihan mengapung. Contoh yang paling terkenal adalah Great Pacific Garbage Patch (GPGP), yang meliputi area seluas 1,6 juta kilometer persegi, atau tiga kali ukuran Prancis. GPGP mengandung lebih dari 80% jaring, tali, dan tali pancing, yang merupakan ancaman serius bagi kehidupan laut.

 

Sampah plastik di lautan juga dapat terurai menjadi bagian-bagian kecil yang disebut mikroplastik, dengan diameter kurang dari 5 milimeter. Mikroplastik tersebar di lingkungan laut dan dapat dikonsumsi oleh berbagai organisme, mulai dari plankton hingga paus. Mikroplastik dapat menyebabkan kerusakan fisik pada sistem pencernaan atau mengganggu sistem hormonal hewan. Mikroplastik juga dapat membawa polutan atau patogen yang dapat mengakumulasi dalam jaringan hewan dan berpotensi memengaruhi kesehatan manusia melalui konsumsi produk laut.

 

Sumber dan pendorong polusi plastik

 

Untuk memahami dan mengatasi masalah polusi plastik, penting untuk mengidentifikasi sumber dan pendorongnya. Polusi plastik bukan hanya akibat manajemen sampah yang tidak memadai, tetapi juga akibat peningkatan produksi dan konsumsi produk plastik.

 

Menurut Our World in Data, setengah dari semua plastik yang pernah diproduksi dibuat dalam 15 tahun terakhir. Produksi meningkat secara eksponensial, dari 2,3 juta ton pada tahun 1950 menjadi 448 juta ton pada tahun 2019. Produksi diperkirakan akan dua kali lipat pada tahun 2050.

 

Pendorong utama pertumbuhan ini adalah permintaan akan plastik sekali pakai, yang menyumbang 40% dari plastik yang diproduksi setiap tahun. Plastik sekali pakai adalah produk yang hanya digunakan sekali lalu dibuang, seperti tas plastik, botol, sedotan, cangkir, peralatan makan, atau pembungkus makanan. Produk-produk ini memiliki umur hanya beberapa menit hingga beberapa jam, namun dapat bertahan di lingkungan selama ratusan tahun.

 

Generasi dan manajemen sampah plastik bervariasi di berbagai wilayah dan negara. Negara berpenghasilan tinggi cenderung menghasilkan lebih banyak sampah plastik per orang daripada negara berpenghasilan rendah. Namun, sebagian besar plastik yang berakhir di lautan berasal dari sungai di negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah. Hal ini karena mereka cenderung memiliki lebih banyak sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik, sementara negara berpenghasilan tinggi memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif.

 

Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik didefinisikan sebagai plastik yang entah dibuang sembarangan atau dibuang dengan tidak memadai (misalnya, dibuang di tempat pembuangan sampah terbuka atau dibakar tanpa kontrol emisi). Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dapat terbawa oleh angin atau hujan ke saluran air dan akhirnya ke lautan. Menurut Our World in Data, sekitar 20% dari seluruh sampah plastik di lautan berasal dari sumber-sumber di laut (misalnya, peralatan perikanan atau alat budidaya air). Sisanya 80% berasal dari daratan.

 

Solusi yang mungkin untuk mengurangi polusi plastik

 

Polusi plastik adalah masalah yang kompleks dan banyak aspek yang memerlukan kombinasi intervensi pada tingkat dan skala yang berbeda. Beberapa solusi yang mungkin melibatkan:

 

Mengurangi produksi dan konsumsi plastik sekali pakai dengan mempromosikan alternatif (misalnya, produk yang dapat digunakan ulang atau mudah terurai), memberlakukan larangan atau pajak pada item tertentu (misalnya, tas plastik atau sedotan), atau meningkatkan kesadaran dan pendidikan di antara konsumen dan produsen.

 

Meningkatkan pengumpulan dan daur ulang sampah plastik dengan berinvestasi dalam infrastruktur dan teknologi, menciptakan insentif dan regulasi untuk pengelolaan sampah, atau mendukung pengumpul sampah dan pengepul yang tidak resmi.

 

Mencegah kebocoran sampah plastik ke lingkungan dengan menerapkan metode pembuangan yang benar (misalnya, pembuangan sampah sanitasi atau pembakaran terkendali), menginstal penghalang atau penyaring di saluran air, atau mengorganisir kampanye pembersihan.

 

Mendukung inovasi dan penelitian pada material, desain, atau proses baru yang dapat mengurangi dampak lingkungan plastik, seperti bioplastik, plastik mudah terurai, atau daur ulang kimia.

 

Meningkatkan kerja sama dan koordinasi internasional dalam penanggulangan polusi plastik dengan menetapkan standar dan target global, berbagi praktik terbaik dan data, atau memberikan bantuan keuangan dan teknis kepada negara-negara berkembang.

 

Polusi plastik adalah masalah global yang mempengaruhi semua makhluk hidup di planet ini. Ini juga masalah yang dapat diatasi dengan tindakan dan tanggung jawab bersama. Dengan menerapkan solusi-solusi yang disebutkan di atas, kita dapat mengurangi jumlah sampah plastik di lingkungan dan melindungi kesehatan serta kesejahteraan kita dan generasi mendatang.



Komentar