Climate Smart Housing sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan sampah plastik, backlog perumahan dan perubahan iklim
Indonesia menghasilkan sampah plastik 5,4 juta ton/pertahun.
Sampah plastik merupakan 15% dari seluruh jenis sampah yang dihasilkan oleh
masyarakat Indonesia. Sebanyak 1,2 Juta
ton sampah plastik masuk ke perairan
laut dan sebagian besar berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Berdasarkan data
Asosiasi Industri Plastik Indonesia
(INAPLAS) setiap individu di Indonesia menghasilkan sampah plastik 20
kg/orang/pertahun. Sampah plastik yang dihasilkan berasal dari kemasan makanan
dan minuman, perangkat rumah tangga, hingga alat keperluan beraktifitas sehari-hari.
Kebanyakan penggunaan material plastik adalah penggunaan sekali pakai. Akibatnya
jumlah tumpukan sampah plastik yang semakin banyak. Berdasarkan penelitian dibutuhkan
waktu sekitar 100-200 tahun sampah plastik untuk bisa terurai. Hal ini
merupakan kabar buruk yang perlu menjadi perhatian untuk kita semua.
Permasalahan lain yang cukup serius di Indonesia yaitu terdapat backlog sekitar 12.7 juta rumah. Sedikitnya jumlah rumah yan terbangun dari yang dibutuhkan mengakibatkan terus meningkatnya harga tanah dan rumah. Selain itu komponen biaya membangun rumah seperti biaya tenaga kerja da material bangunan yang terus naik setiap tahunnya. Dampak yang paling merasakan dari permasalahan ini adalah generasi milenial yang semakin susah dalam memiliki rumah yang mereka layak. Solusi yang dilakukan oleh pemerintah dengan membangun 1 juta rumah setiap tahun masih belum bisa mengatasi masalah perumahan di Indonesia secara optimal seiring terus bertambahnya populasi di Indonesia. Pemerintah diharapkan selain berfokus kepada solusi skema pembiayan finansial ada baiknya juga untuk melakukan pendekatan baru cara membangun rumah/metode kontruksi yang lebih cepat,murah dan ramah lingkungan. Hal ini perlu ada terobosan yang inovatif untuk menyelesaikannya.
Setiap individu mulai sadar dengan perubahan iklim dikarenakan semakin terasanya dampak perubahan iklim dalam tatanan kehidupan akibat dari emisi gas CO2 seperti peningkatan suhu dan perubahan pola cuaca. Kesadaran ini menimbulkan keinginan untuk memakai produk ramah lingkungan. Rumah sebagai produk yang menjadi kebutuhan pokok tempat bernaung pada umumnya mengunakan material semen. Produksi produk berupa semen berkontribusi dalam menghasilkan emisi CO2 ke atmosfir. Setiap 1000 kg semen yang dihasilkan maka akan mengeluarkan emisi CO2 1000 kg ke lingkungan.
Jadi bagaimana kita menyelesaikan permasalah di atas? Sebagai salah satu alternatif solusi terbaik adalah membangun perumahan yang tanggap terhadap iklim atau Climate Smart Housing. Rumah yang tanggap terhadap iklim dibangun dengan memperhatikan dampak terhadap lingkungan baik itu desain tata ruang, konsumsi energi dan air serta penggunaan material pembangunan yang ramah lingkungan. Contohnya dalam material ramah lingkungan bisa dilakukan dengan memanfaatkan sampah plastik menjadi material bangunan menjadi bata, dinding panel, paving block, atap serta bisa menjadi furniture rumah seperti kursi, meja dan dekorasi lainnya. Selain mengurangi dampak kerusakan lingkungan, sampah plastik juga dapat dijadikan sebagai material alternatif pengganti semen dan kayu dalam di dunia konstruksi untuk membangun rumah.
Di Indonesia mulai bermunculan berbagai inovasi dari pemuda Indonesia yang peduli akan dampak negatif sampah plastik dengan membangun perusahan rintisan atau startup dan mencoba berkontribusi untuk mengatasi permasalah ini. Dengan menerapkan sistem ekonomi sirkular dalam proses bisnis, mereka tidak hanya menghasilkan profit tetapi juga mengurangi dampak negatif produk yang dihasilkan terhadap lingkungan. Seperti Waste4change yang mencoba untuk memperbaiki manajemen pengolahan sampah secara keseluruh tidak hanya sampah plastik tetapi juga sampah domestik lainnya. Robries yang mencoba membuat berbagai furnitur rumah yang terbuat dari pengolahan sampah plastik. Rebricks membuat bata untuk dinding rumah serta paving block dari sampah plastik. Kemudian ada Inoplas yang mentransformasi sampah plastik menjadi dinding panel rumah fabrikasi dengan sistem instalasi modular yang memiliki kelebihan tahan gempa, ramah lingkungan, instalasi cepat dan harga terjangkau.
Dengan semakin banyaknya bermunculan berbagai inovasi untuk
mengubah sampah plastik menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan kembali maka hal
ini akan sangat berdampak positif untuk Indonesia.

Komentar
Posting Komentar